Showing posts with label Behind the Stages. Show all posts
Showing posts with label Behind the Stages. Show all posts

Monday, June 29, 2020

My Dog: Alih Wahana Virtual, Sebuah Pemantik


Hai, selamat menyambut hari - hari di bulan Juli yang cerah dan menyenangkan.

Kali ini, saya mau cerita lagi tentang Flying Balloons Puppet. Sebenarnya banyak sekali draft tentang kelompok yang Rangga dan saya bangun ini, tentang cerita belakang panggung atau lainnya yang hadir.

Pandemi sungguh meluluhlantakkan rencana kami di tahun ini, dari penelitian lanjutan tentang pertunjukan kami, hingga rencana tur ke beberapa kota. Untuk saat ini, semua rencana kami simpan dulu sampai keadaan berangsur membaik. Simpan dengan baik sembari mengumpulkan amunisi.


Tentu saja, banyak sekali hal yang harus dilakukan untuk memanaskan mesin kami. Dan, di waktu yang tepat, Flying Balloons diajak Papermoon untuk ikut Pupa Puppet Lab Virtual. Saya senang sekali! Karena memang sudah lama kami istirahat, mulai dari persiapan saya melahirkan yang mengharuskan saya dan Rangga pulang, hingga sampai Jogja kami harus menghadapi kenyataan bahwa pandemi membatasi pergerakan sementara.

Jadi, bagaimana Pupa Puppet Lab ini? Ada 3 kelompok yang diajak Papermoon untuk berproses, Kanca Ruci, Komunitas Sakatoya, dan Flying Balloons. Kami diminta membuat pertunjukan untuk keluarga yang nanti akan direcord dan ditampilkan secara daring. Ini pertama kalinya bagi kami, di mana pertunjukan ditonton secara virtual. Dan tentunya ada wahana baru yang harus kami ajak kenalan.

Awalnya Rangga hadir dengan cerita tentang sampah dan seorang pria, namun premis ceritanya belum kuat, sehingga atas masukan mentor dari Papermoon, Rangga ambil cerita tentang anjing dan tuannya. Lalu, pertunjukan ini kami beri judul My Dog. Waktu berproses cukup singkat, 1 minggu untuk menggodok ide, menyiapkan kebutuhan artistik, mengambil gambar, dan mengedit video beserta musik. Hectic sekali! Tapi jadi perjalanan unik karena kami mencoba membuat pertunjukan ini dengan konsep pembuatan film sederhana. Kami mencoba sesuatu yang baru. 

Acara livenya ada di Youtube Disbud DIY, Pupa Puppet Lab didukung oleh Disbud DIY

Sampai akhirnya kami membuat studio mini di rumah kami untuk proses pengambilan gambarnya. Untuk editing, Rangga dibantu mas Yoga. Ternyata, dalam waktu seminggu, kami bisa sedikit memanaskan mesin kami. Walaupun harapan saya itu, harusnya terbakar. Hahaha. Tapi, semoga jadi awalan baik buat kami untuk terus berproses dan membuat sesuatu yang menyenangkan.

Pertunjukkannya cukup singkat, sekitar 7 menit saja. Walau hasilnya belum maksimal sekali, cukuplah untuk jadi bekal memulai lagi. Kami lagi menggodok beberapa cerita juga untui dibuat dalam bentuk video. Semoga segera bisa tayang yaaa.

Kalau penasaran dan ingin menunggu hasilnya, jangan lupa follow instagram kami di @flyingballoons.puppet.

Terima kasih sudah mampir

Cheers

Friday, May 22, 2020

Pongo Abelii: George Town Festival 2019

Last day performance at George Town Festival

Hola!

My English is super rusty nowadays. I need to practice it over, that's why I wrote today's entry in English. 

I would love to share more about Flying Balloons Puppet experience in this blog. In fact, this post already on my draft lists since 2019! Anyway, last year, we got selected as one of performers at George Town Festival in Penang Malaysia. It is a new experience for me to bring 8 people including me traveling quite far from before. 

We have been performing and working in several cities in Indonesia from Jogja, Jakarta, Makassar, and Lombok. But, it is our first time doing it outside Indonesia. We brought Pongo Abelii, an experimental puppet performance that we started in the beginning of 2019. Pongo Abelii is a performance where we are looking for the artistic choice and trying other form of puppetry that will resemble our group better.

Being another new contemporary puppet theater group, despite the fact that we have been around for 5 years, is quite challenging. In Indonesia, Papermoon Puppet Theatre is the role model for modern puppetry. And yes! They are our role model/mentor/friends. Before Rangga created Flying Balloons Puppet during his study in ISI Yogyakarta, we have attended Pesta Boneka - a puppet biennale festival - held by Papermoon to search for references on puppet theatre. Rangga started to search about puppetry through Youtube and his first encounter is a German puppet artist Ilka Schonbein. He then looked for Indonesia group and we found Papermoon.

Long story short, since 2015, we have been performing and creating puppet theater. As a puppet theater group we are in searching for our identity. By learning with Papermoon we acknowledged that we adapted their artistic choices. It is inevitable for everyone who are learning from others. We experimented with materials and story as well. For me personally, Act Without Words and Pongo Abelii could become the door to find our style as a group.

Last day of festival with all GTF team and performers

In this festival, we performed in a Heritage building called Whiteaways Arcade. The stage is on the second floor. I get a little bit nervous since it use wood flooring and part of the shows the actor will stomp the floor. But, after general rehearsal, we could get the sense on how actor  will use their power for that scene. We had 2 performances during the festival. I am the one who managed the team and the performance, back and forth coordinating with the technical team, until explaining and closing the show. It was such a journey. 

I knew that Pongo Abelii is a working progress. There is a lot of things that we need to find and explore with the piece. I almost cried when I saw how people react and even cry after watching this performance. It is our first time performing in Penang, Malaysia. I hope that it gives a lot of perspective and experience to the team. Even though it is not our first international festival, but it definitely creates new way for us to deliver the story through Pongo Abelii. 


Our Puppeteer: from left to right Jefri, Maisyarah, Yunita, and Anwar

I am definitely wants to write more about Pongo Abelii's journey, from how this story began, how we created its premiere, how we developed this and all the good & bad things we have been through. I hope I could manage to share the progress through out this year. Actually,  we plan to cook and develop this performance even more. There are several cities on our list to performs Pongo Abelii this year. But, the condition's now is not ideal for us to do it. 

So, here I am trying to share its story one by one. It becomes a way for me to evaluate and even to find opportunity for this performance. 

'till next time!


Monday, May 18, 2020

Refleksi Temu Produser Seni Pertunjukan

Suasana seperti saat ini memang memunculkan momen - momen baru yang entah akan menjadi apa selanjutnya. Seperti blog challenge yang saya ikuti, begitu juga suasana Ramadan di kala Covid-19.

Berjalan perlahan dan kembali itu penting untuk melihat sudah berapa jarak yang ditempuh dan apa saja yang ditemui.

3 Minggu belakangan, saya diundang dengan rekomendasi mba Ria untuk ikut diskusi Temu Produser Seni Petunjukan. Awalnya mba Ria cuma minta email saya. Lalu ternyata saya diundang untuk ikut hadir dalam diskusi tersebut. Wah! I never imagined myself being in that forum, terlebih lagi when it comes to producer. 

General Rehearsal Pongo Abelii Juli 2019

Saya sebenarnya tidak pernah mendapuk diri sebagai seniman atau bahkan produser. Mungkin ada keminderan untuk menyandang sebutan itu, entah karena saya rasa pengalaman yang belum cukup atau karena saya merasa tidak memiliki pengetahuan mengenai hal tersebut. Sejak 2015 hingga detik ini, saya dan Rangga membangun grup kecil kami bernama Flying Balloons Puppet, sebuah grup teater boneka. Selama perjalanan beberapa tahun ini, sungguh banyak sekali jalan terbuka buat saya pribadi. Belajar hal baru yang mungkin dulunya adalah hal yang saya cintai. Latar belakang saya di hubungan internasional cukup jauh mungkin dengan apa yang saya kerjakan di Flying Balloons Puppet. Saya sebagai manajer, pimpinan produksi, pemain boneka, pembuat boneka kostum hingga setting, dan bahkan menjadi jubir hingga bernegoisasi dengan beberapa stakeholder.

General Rehearsal Sori in the Land of Lembuna Oktober 2018

Hal - hal tadi tidak pernah hadir dalam gambaran saya saat menempuh pendidikan, terlebih lagi pendidikan politik. Tapi mungkin ada jalan - jalan yang dulu pernah saya inginkan, kembali lagi ke hadapan saya dalam bentuk yang berbeda. Bekerja di Flying Balloons Puppet, lebih kepada kerja kolektif dan militan. Berangkat dari diri kami sendiri. Mulai dari apa yang ada. Bergerak disekitar orang - orang yang lebih dulu terjun dan menekuni dunia teater boneka. 

Kembali lagi ke temu produser tersebut, jujur, saya hanya mengenal atau mengetahui setengah saja dari orang - orang yang ikut berdiskusi. Merasa cukup asing. Tapi, saya merasa ketika mendengarkan pantikan dari teman - teman dan bagaimana diskusi bergulir mengenai keproduseran di Indonesia, terutama produser seni. Saya jadi tahu, ternyata apa yang saya lakukan di Flying Balloons Puppet juga bisa disebut kerja keproduseran. Bahwa praktik ini berjalan begitu luasnya dan beraneka ragam. 

Pengetahuan tentang keproduseran menjadi tajuk baru dalam seni pertunjukan menurut saya. Karena umumnya ketika orang mendengar produser, pasti analoginya merambat pada produser film, sinetron, dan tokoh lainnya dengan modal kapital yang besar. Seperti yang dibahas pada diskusi 3 minggu ini, bagaimana peran produser pada seni itu sendiri baik secara internal maupun eksternal. 

Setelah diskusi selesai saya berpikir, apakah ada forum lanjutan? Bagaimana keproduseran di Indonesia bisa menjadi suatu hal yang umum atau mungkin bahkan nantinya menjadi pekerjaan atau karir yang dipilih. Saya berpikir banyak, terutama tentang seni pertunjukan, teater boneka, jalan yang akan Flying Balloons Puppet tempuh, tujuan - tujuan kedepannya, bahkan sampai pada keinginan saya untuk menempuh pendidikan lagi khusus yang berhubungan dengan seni dan diplomasi. 

Sungguh masa - masa di rumah memang membuat kita lebih banyak berefleksi dan berpikir.

Saya pengen bahas lebih lanjut mengenai topik ini dan tentunya Flying Balloons Puppet. Semoga waktu dan tenaga masih tersisa. 

Selamat memulai minggu teman - teman

Sunday, March 17, 2019

A story of a young Orangutan

I always find it fascinating, a wilderness and unique animals exist in Indonesia. There are thousands of animals and plants spread all across this nation. Have you see any of them? Some of us might have a chance to see them in the zoo, more lucky people live side by side with them. Do you have any idea how the way we live now influence their natural habitat?

Concerning I might say, how we treat our environment today. Even though, the exposure from T.V. and media is devastating to look at, but not many people think that it is a priority to save our environment. People tend to debating about whether you have faith to God or not if you choose certain people as your leader. They forget that those leaders they talk about, they don't give s*** to the future of Indonesian environmental problem. Sorry I have to say that, if you looked back on the last presidential candidate official debate, no one talked about it. No one.

They do not feel guilty from what they left their children and grandchildren with. More and more plants and animals went extinct. Less and less safe place to live. We are guilty for what our generation will experience in their life. I feel guilty if my generation cannot feel the fresh breeze of wind, or clear sea where they can swim and dive. I feel guilty for forgetting that I live in a place together not only with other human but other living things who provides me with foods, lands, and water. I believe that God want us not to be greedy. I am sure of that. I could not give you the verses you are looking for, but that is what I believe. Before I rant more about how ignorant people nowadays, let me tell you a story, that is what I want to write today.

I want to share a story of young Orangutan, who lost his home. Can you imagine if your homeland is no longer exist? There is no place to come back home. No one wanted to experience that. But, sometimes we ignore the lives of others. The forest you used to find foods, now gone. The river where you get your water and fish, now dirty full of plastics and all that toxic waste. Imagine being him where all his family and friends are whether dying from expulsion or fire, captured by people because they are considered a pest. He is full of confusion, anger, and sadness. He only wished to see his family and live like they used to be.

I am an Orangutan, who lives in the land we share together

My body was on fire
Not from what people used to burn my home with
But from anger
Who heats my soul

I cursed
I screamed
Wanting people to hear
That I am here

Will you listen?
Will you understand?
Those branches
Are my favorite place

It used to be
Place where my mother feeds me
Where I jumped and play
With my little brother

That tree is not yours
Neither mine
Would you want to share?
The same air its produced

I bet you do not want
Because you feel so much higher
You feel that you are in power
But, you are not


I feel weird writing those poem/poetry/whatever you want to called it. I feel the resentment. I feel bad. But, I think that somehow you have to transfer your mind.

Anyway, this year, Flying Balloons Puppet will come with a new performance about Orangutan. We want to share our perspective on this issue. We are not the environment activist, but we want to let people know and feel that this is what happen in our beloved country.

Let's meet and be there to experience the lost, anguish, that Orangutan felt about his home.

Would he find his home? Would he be happy?

Thursday, November 22, 2018

Sori di Negeri Lembuna: Pesta Boneka #6

Photo from @fatimahartayu

Hi!
Kembali lagi dengan cerita tentang keikutsertaan dan proses Flying Balloons Puppet di Pesta Boneka #6. Hari ini, saya mau cerita tentang pengalaman kami berkolaborasi dengan seorang seniman Australia bernama Gwen Knox.

Untuk Pesta Boneka #6, kami membawakan karya terbaru kami yang berjudul Sori di Negeri Lembuna. Karya ini adalah karya kolaboratif dengan seniman Australia bernama Gwen Knox. Sebenarnya cerita tentang Sori dan Lembuna yang akan kami godok bersama ini sudah pernah kami pentaskan sebelumnya di Solo pada acara Solo International Performing Arts (SIPA) 2018. Namun, untuk kali ini kami ingin mengakomodir cara bekerja dan juga ide - ide yang akan hadir selama proses kreatif kami dengan Gwen.

Sori di Negeri Lembuna adalah cerita tentang seorang gadis yang bertemu dengan penunggu sungai yang berada di dekat rumahnya. Mahluk itu bernama Lembuna, seekor ular dengan kepala kerbau. Cerita ini berasal dari cerita di Sungai Pemali, Brebes, sebuah cerita yang cukup terkenal di sekitarnya. Kami ingin membuat pertunjukan yang menunjukkan sisi lain dari cerita tersebut di mana sebagian besar bercerita tentang penunggu yang jahat dan selalu meminta tumbal atau korban manusia. Mungkin saja, itu semua karena ulah kita manusia yang suka lupa merawat lingkungan sekitar.


With Gwen Knox after the performance. Photo from @fatimahartayu

Jadi, bagaimana rasanya menggabungkan dua cara bekerja yang berbeda menjadi sebuah karya kolaboratif. Jika saya melihat kembali, cukup mengejutkan hasil dari kolaborasi tersebut. Saya yakin bahwa latar belakang kita juga mempengaruhi bagaimana kami bekerja dan menciptakan sebuah pertunjukan. Awalnya teman - teman cukup kesulitan mengikuti alur dan laju kerja dari Gwen, tapi perlahan dan pasti kami bisa memaksimalkan cara kerja ini dalam proses kami.

Kesempatan ini bukan cuma menjadi cara kami memperluas jaringan, tapi juga menjadi tantangan untuk bisa berkompromi dengan cara kerja masing - masing. Secara pribadi saya pikir, ada latar belakang cara kerja yang berbeda antara Gwen dan juga kami. Tapi, komunikasi yang terbuka dan juga keinginan untuk belajar membuat perbedaan itu tidak menjadi batasan bagi kami untuk berproses dengan Gwen. Gwen sendiri sangat teratur dan terorganisir menyangkut latihan dan juga bagaimana membangun cerita yang akan dipertunjukan. Dia sangat mengerti bagaimana melogiskan aktivitas ke pertunjukan. Selain itu Gwen juga membantu kami untuk menyederhanakan cerita yang kami buat. At the end of the day, kami merasa Gwen sudah seperti nenek kami sendiri. Dia sangat sabar menghadapi tingkah laku anak - anak yang umurnya terpaut jauh. 

Semoga ada kesempatan - kesempatan lucu dan asyik yang akan hadir ke depannya. Untuk kegiatan pertunjukannya, nanti akan saya share lagi.

Sampai jumpa lagi!
M

Friday, October 12, 2018

Pesta Boneka #6: Pertemuan kembali

Photo: Instagram @pesta_boneka
Hi!
Kali ini, saya pengen cerita tentang Pesta Boneka #6 dan pertemuan saya kembali dengan festival ini.

Sekilas cerita tentang Pesta Boneka dan bagaimana kami bisa terlibat di dalamnya, jadi di tahun 2014, saya Rangga dan Ditto merayakan ulang tahun Ditto dengan mengunjungi Pesta Boneka #4 yang diadakan bulan Desember 2014. Saat itu adalah pertemuan pertama saya dengan dunia teater boneka dan juga acara yang sangat menyenangkan ini. Bahkan kami jadi berkenalan dengan penonton setia Papermoon yaitu Mba Anggun, Mba Vic, dan Mba Iin yang waktu itu bantu menjaga stand merchandise. Hampir selama 3 hari acara, kami akan menunggu pertunjukan selanjutnya di booth merchandise Papermoon bersama mba - mba ini.

Lalu pada tahun 2015 awal, Rangga membentuk kelompok teater boneka bernama Flying Balloons Puppet yang sampai saat ini kami jalankan bersama. Di awal tahun tersebut, Rangga dan saya berkenalan dengan Papermoon. Rangga banyak berkomunikasi dan berdiskusi tentang teater boneka dengan Papermoon. Hingga pada tahun 2016, Flying Balloons Puppet berkesempatan menjadi bagian dari Pesta Boneka #5 dengan tema “Home”. Kalau ingat lagi, “Home” tema pesta boneka 2 tahun lalu menjadi sedikit tanda bahwa kami sedang dalam perjalanan kembali ke rumah (dalam hal ini teater boneka) dan bagaimana festival tahun tersebut membentuk kami yang sekarang. Ada ucapan yang menarik yang diucapkan Mba Anggun, dari groupies menjadi peserta Pesta Boneka. Menarik karena, pertemuan dua tahun lalu membawa kami kembali menjadi bagian dan penampil di Pesta Boneka #5.

Pesta Boneka #5 menjadi batu loncatan dan juga pijakan pertama kami untuk serius menggeluti seni pertunjukan ini. Terutama untuk saya pribadi yang tidak memiliki latar belakang teater. Pesta Boneka #5 menjadi panggung kedua saya sebagai pemain boneka. Bahkan sejak saat itu kami sebagai grup lebih bergairah dalam menekuni bidang ini karena kami menemukan rumah kami. Pada Pesta Boneka #5 kami membawakan pertunjukan berjudul “NATUH” yang sangat minim secara bentuk (menurut saya pribadi, pertunjukan yang cukup buruk). Momen tersebut membuat NATUH berkembang sampai saat ini dan bahkan sudah dipentaskan 7 kali. Kalau bukan karena Pesta Boneka #5, saya yakin ceritanya akan jadi cukup berbeda terlepas dari dukungan yang datang dari berbagai pihak setelah itu di tahun berikutnya.

Photo: Instagram @pesta_boneka

Saya pribadi sangat excited akan mengikuti Pesta Boneka untuk kedua kalinya sebagai peserta tahun ini. Pesta Boneka #6 akan dimulai sejak hari ini tanggal 12 Oktober 2018 hingga 14 Oktober 2018. Flying Balloons Puppet akan membawakan cerita tentang Sori dan pertemuannya dengan mahluk penunggu sungai bernama Lembuna. Kami berkolaborasi dengan seorang seniman teater boneka asal Australia bernama Gwendolyn Knox. Saya akan membuat entri blog sendiri tentang proses bersama Gwen untuk pertunjukan ini. Cerita tentang Sori dan Lembuna kami angkat dari mitos yang berkembang di Brebes tentang penunggu sungai Pemali. Kami ingin menceritakan kembali mitos dengan sudut pandang dan cara yang berbeda. Hal yang menarik dari pertunjukan ini adalah kami akan mementaskannya di sebuah kolam kering yang terletak di pinggir sawah. Untuk tahu bagaimana pertunjukan kami, jangan lupa untuk hadir minggu sore ya.

Sampai jumpa di hari Minggu, 14 Oktober 2018 jam 4 sore di Desa Kepek, Bantul teman - teman!

Friday, April 27, 2018

Gadis Daun Jeruk


Hi hi! I am back with another story about Flying Balloons Puppet project. I hope you guys enjoy reading this one ya.

Gadis Daun Jeruk, dari judulnya saja langsung bikin pikiran kemana - mana nggak sih? (I mean jadi berimajinasi) Kalau saya sudah pasti membayangkan seperti apa gadis daun jeruk ini. Sebenarnya apa sih Gadis Daun Jeruk? Terus apa hubungannya judul ini sama proyek Flying Balloons Puppet?

Jadiii, Gadis Gadis Daun Jeruk adalah buku cerita bergambar yang ditulis oleh mba Rinda Maria Gempita dengan Ilustrasi dari mba Wickana. Ceritanya, sehabis pentas NATUH di Galeri Indonesia Kaya Maret kemarin, saya bertemu dan berkenalan dengan mba Rinda. Dia cerita tentang ketertarikan dia pada bagian shadow dari pertunjukan kami dan berharap kami bisa berbagi di acara launching buku Gadis Daun Jeruk ini. Terus kami sempet ngobrol sebentar. Obrolannya kami lanjutkan melalui Whatsapp, mba Rinda juga kasih e-book dari bukunya ini. Saya share ke temen - temen dan sebagian besar kami suka pakai banget sama bukunya.

At first, ketika kamu mikir tentang buku cerita bergambar, kamu bakal bayangin kalau ceritanya totally buat anak - anak kaan? But, no no, Gadis Daun Jeruk punya sesuatu yang berbeda dan menurut saya pribadi hal yang diceritain itu dekat banget sama kita - kita yang umurnya 20-an bahkan 30an. Kenapaa? Karena bukunya bercerita tentang mimpi dan kesempatan kedua. But, I will not spoil you with the whole story ya. Better check out the website dan order bukunya (Bukunya limited edition lho).

Setelah ngobrol dengan temen - temen dan juga mba Rinda kami mutusin buat menghandle project untuk launching buku Gadis Daun Jeruk di akhir bulan April ini. Menurut saya sendiri, Gadis Daun Jeruk itu punya kedekatan pribadi sama saya. Saya pikir semua orang punya mimpi - mimpi dan kesempatan - kesempatan yang sempat dilupakan dengan segala hecticnya hidup yang sungguh luar biasa ini. Selain itu, buku ini juga ditemani ilustrasi apik dari mba Wickana. Inget fusion di dragon ball gak? Nah, buku ini fusion yang oke buat cerita dan ilustrasinya.

Sebenarnya untuk shadow play sendiri, kami, Flying Balloons Puppet sudah beberapa kali berkolaborasi dengan teman - teman pengkarya seperti penari dan juga kelompok teater di Jogjakarta.



Buat yang penasaran dengan buku Gadis Daun Jeruk dan juga penampilan kami, datang yuk ke Paviliun 28, Sabtu 28 April 2018.

See you there!

Thursday, April 12, 2018

NATUH hadir di Jakarta! - Part 3

Hi, kembali lagi ke Behind Stages: Natuh hadir di Jakarta! - bagian ketiga.

Pada bagian ini, saya mau cerita perjalanan NATUH sampai akhirnya hadir bersama teman - teman di Jakarta bulan Maret kemarin. Jadi begini ceritanya, setelah kami hadir di FTRN pada bulan September 2017, kami dapat info kalau ada program hibah seni pertunjukan bernama Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2017. Sejujurnya kami belum pernah ikutan kegiatan seperti itu, selama ini kami menggunakan dana pribadi untuk produksi pertunjukan kami. Hal yang baru tentunya menjadi tantangan buat kami sebagai kelompok juga bagi saya.

Di Flying Balloons Puppet, saya adalah salah satu co-founder dan juga creative manager. Ceilaaah, namanya asyik banget ya, hehehe, sejauh ini saya membantu teman - teman di kelompok seputar administrasi, proses kreatif dan juga produksi dari pertunjukan kami. Nggak sebatas itu sih, karena setiap orang juga terlibat langsung dalam setiap proses kreatif kelompok. Jujur, saya belum pernah punya pengalaman langsung menjadi seorang pimpinan produksi, selama ini kami bekerja cukup sporadis. Daftar ke Ruang Kreatif Seni Pertunjukan butuhin keberanian dan kepercayaan diri buat saya. Semesta punya cara untuk niat-niat baik kita, dan saya yakin kami bisa berbagi melalui ruang ini.



Setelah menunggu pengumuman dengan was - was, kami terpilih sebagai 25 besar kelompok yang akan mengikuti workshop di Jakarta selama 3 hari. I was super happy! Yet, nervous. 25 besar kelompok itu ngirimin satu anggotanya buat ikutan workshop. Dan tentunya saya yang diminta teman - teman untuk berangkat, pertama karena saya pimpronya, kedua karena mereka lagi pada kuliah. Selama 4 hari 3 malam di Jakarta, saya bertemu 24 peserta lainnya dari seluruh Indonesia, walaupun ada beberapa teman yang memang sudah saya kenal sebelumnya. Pengalaman baru yang sangat menyenangkan dan saya belajar banyak nggak cuma dari pengisi workshop tapi juga dari teman - teman yan hadir. Jujur, ada rasa minder ketika saya tahu sebagian besar orang yang ikut workshop memiliki background sekolah seni atau sudah lama menggeluti seni pertunjukan. Nyali sedikit menciut, apalagi setelah workshop, tepatnya di hari terakhir, kami 25 peserta akan pitching atau presentasi konsep pertunjukan kami di depan panel juri. When it comes to speak in front of people, I will get nervous, but there is thing that I believe. Nggak tau kenapa sih, ada keyakinan lain saat pitching di depan panel yang mana orang - orang kece di bidangnya masing - masing. Panel hari itu ada Garin Nugroho, Nano Riantiarno, mas Billy dan Adi dari Bakti Budaya Djarum Foundation. Mungkin hal yang bikin saya yakin sat presentasi adalah, saya sudah tahu luar dalam dari NATUH dan saya percaya bahwa NATUH punya jalannya sendiri untuk berbagi kepada teman - teman di Jakarta. Setelah kembali ke Jogja, beberapa hari kemudian, kami mendapat info bahwa kami lolos menjadi 10 besar peserta yang akan tampil di Galeri Indonesia Kaya di bulan Maret 2018.

Setiap kelompok yang terpilih akan didampingi mentor untuk proses kreatif di Ruang Kreatif Seni Pertunjukan ini. Flying Balloons Puppet didampingi oleh bapak Subarkah Hadisarjana, seorang aktor senior, makeup artist dan artistik dari Teater Koma, serta dosen artistik. Kami beruntung sekali beliau yang mendampingi kami selama proses ini. Pak Barkah adalah orang yang sangat bersemangat, dan beliau selalu punya cerita menarik tentang pengalaman beliau di seni pertunjukan. Kami mendapat dua kali kesempatan untuk bertemu secara langsung dan diskusi mengenai NATUH. Saat mentoring pertama, pak Barkah mengajak kami diskusi dan mendengarkan konsep dari pertunjukan kami. Lalu, kami diajak untuk mencoba material baru untuk boneka kami. Setelah mentoring pertama ini, kami mengubah struktur boneka dengan menggabungkan pipa paralon, busa ati, serta rotan. Kami memodifikasi hasil workshop yang diberikan oleh pak Barkah. Selanjutnya diskusi kami lakukan via Whatsapp Messenger, kami melakukan update eksplorasi bentuk kepada beliau. Lalu, pak Barkah melakukan mentoring kedua di pertengahan Februari 2018, kami mempresentasikan karya kami kepada beliau. Menurut saya pribadi, pak Barkah memiliki cara yang bijaksana menghadapi kami.



Setelah proses dari bulan Desember 2017 hingga Maret 2018, NATUH hadir di Galeri Indonesia Kaya pada hari Minggu, 25 Maret 2018, pukul 15.00. Saat itu, saya nervous sekali, karena melihat sudah banyak orang mengantri untuk masuk melihat pertunjukan kami. Sebelum pentas, kami berkumpul dan berdoa bersama dengan tim dan juga Pak Barkah. NATUH pun hadir bersama kalian semua.



Setiap tempat punya cara sendiri, dan kami sangat bahagia bisa berbagi dengan teman - teman di Jakarta melalui pertunjukan ini. Kami mendapat energi yang positif serta antusiasme dari teman - teman yang hadir. Kami sangat berterima kasih kepada semua yang hadir dan berbagi bersama NATUH. NATUH tidak akan bisa hadir tanpa energi baik yang teman - teman bagikan kepada kami, serta kesempatan yang diberikan semesta kepada kami melalui program Ruang Kreatif Seni Pertunjukan 2017, begitu juga diskusi yang kami lakukan dengan teman - teman dari awal NATUH lahir.

Terima kasih, terima kasih.

Sampai jumpa di kesempatan baik lainnya.

Monday, April 9, 2018

Perjalanan NATUH - Part 2

Hi hi bertemu lagi di Behind Stages.
Saya mau cerita sedikit tentang tag behind stages ini, melalui tag ini saya ingin berbagi tentang pengalaman belakang panggung dari proses - proses yang saya ikuti dan ambil bagian di dalamnya. Sebagai seseorang amatir dalam dunia seni pertunjukan, saya ingin menjadikan ini sebagai catatan saya. Semoga bisa diambil manfaatnya oleh yang lain yaa.

Kami ingin NATUH itu berkembang dan kami berharap tetap bisa hidup dan tumbuh di mana saja. NATUH bukan cuma pertunjukan yang melibatkan kami, tapi ia adalah gambaran dari kehidupan kita semua. NATUH berkembang cukup pesat pada kehadirannya yang kedua saat The Night of Ideas. Boneka yang dulunya tidak bervolume kini memiliki detail lebih baik dalam tampilan dan juga permainannya. Sebelumnya boneka NATUH dimainkan satu orang, namun pada pertunjukan kedua, boneka dimainkan oleh dua orang. Kami juga memberi opsi - opsi baru dari shadow play yang kami hadirkan dalam pertunjukan ini. Setelah The Night of Ideas, salah satu teman kami mengajak kami untuk berbagi di Bondowoso dan Jember, yang mana adalah tempat asalnya. Saat bersamaan, saya wisuda ditanggal itu, sehingga, saya dan Rangga tidak bisa ikut perjalanan NATUH ke Bondowoso dan Jember.



Terlepas dari ketidakikutsertaan kami berdua, NATUH punya jalannya sendiri untuk berbagi kepada teman - teman di Bondowoso dan Jember. Terdapat banyak interpretasi menarik yang disampaikan teman - teman yang berangkat setelah mereka balik ke Jogja. Salah satunya adalah pembacaan penonton tentang hari kiamat melalui salah satu adegan di NATUH. Interpretasi lain in menjadi catatan menarik bagi saya pribadi, karena sebuah pertunjukan tidak bisa memaksakan penontonnya untuk sejalan dengannya. I mean, orang yang datang menonton membawa perangkat yang berbeda - beda dan NATUH punya tempat tersendiri dari memori penonton yang datang.

Setelah cukup lama, beristirahat, NATUH kembali kami hadirkan di Festival Teater Remaja Nusantara yang diadakan di ISI Yogyakarta. Kami ingin, NATUH menjadi salah satu alternatif bagi teman - teman yang datang dari berbagai daerah. NATUH adalah salah satu medium untuk berbagi. NATUH untuk FTRN punya beberapa hal baru. Sebenarnya di setiap pertunjukan NATUH, akan ada elemen yang bertambah dan berkurang. Karena tim yang tergabung pun berubah beberapa kali, ide yang datang untuk pertunjukan juga tentunya berubah. Saat FTRN, Anwar memberikan ide tentang spinner, sebuah alat sederhana yang kami buat untuk menghasilkan efek sinematis pada permainan bayangan kami. Selain ada perubahan juga pada salah satu karakter, yaitu LUTA. NATUH terus berkembang dan berubah bersamaan dengan berubahnya setiap orang yang terlibat di dalamnya.



NATUH adalah pertunjukan tunggal kami yang ketiga, pada tahun 2015 dan 2016 kami pernah produksi pertunjukan tunggal juga. NATUH punya cerita unik karena setelah dipentaskan pertama kali tahun 2015, proses kreatif dari NATUH tetap terjadi dan ini menjadi satu hal yang saya personally bangga. Kami masih lihat banyak sekali kemungkinan dari NATUH, hal bikin saya bahagia adalah ternyata NATUH mengajarkan kami banyak hal tidak hanya dalam hal eksplorasi dan juga berlatih. Tapi, melalui pertunjukan ini kami bertemu dengan banyak teman - teman hebat yang menginspirasi kami.

NATUH, bagi saya, membawa arti yang lebih luas dari tentang ide menjaga alam dan menghargai kehidupan di dalamnya. NATUH juga mengajak saya mengingat bahwa segala sesuatu itu pasti ada kontranya, dan tugas saya adalah bukan melihat kontranya sebagai musuh terbesar tapi, diri sendiri saat menghadapinya. You grew up with how you face your problems not how big the problem is, yet each problem has its own way to push you to the edges, right?

Sampai jumpa di bagian selanjutnya!

Cheers,
M

Sunday, April 1, 2018

Behind Stages: NATUH hadir di Jakarta! - Part 1



Hi! Kembali lagi dengan cerita di balik panggung. Hari ini pengen banget cerita bagaimana akhirnya kami - Flying Balloons Puppet - bisa hadir di Jakarta minggu lalu. Entry blog ini akan saya bagi menjadi 3 bagian, semoga betah ya bacanya dan menunggu kelanjutan cerita ini.

Nggak saya bayangin sebelumnya, NATUH bisa kami bawakan di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia West Mall, Jakarta. Tepatnya pada tanggal 25 Maret 2018, perjuangan berlatih dan mengeksplorasi kemungkinan - kemungkinan dari pertunjukan ini terbayar dengan energi positif yang diberikan oleh penonton. Ini adalah pengalaman pertama saya fully sebagai Pimpinan Produksi sebuah pertunjukan teater boneka. Latar belakang pendidikan politik dan terjunnya saya ke dunia pertunjukan cukup membingungkan. Tapi, kecintaan saya pada seni sudah ada sejak saya kecil. Seperti yang selalu saya percaya bahwa ada jalan - jalan yang akhirnya kita ambil untuk menghidupkan kembali mimpi masa kecil saya, bergelut di dunia kreatif.

NATUH hadir di Jakarta, perjalanan ini di mulai jauh sebelum kami memutuskan untuk memberanikan diri mendaftarkan proposal pertunjukan NATUH ke Ruang Kreatif Seni Pertunjukan. Pada bagian ini saya akan cerita tentang lahirnya NATUH sebagai sebuah pertunjukan teater boneka.

NATUH pertama kali dipentaskan pada Pesta Boneka #5 yang diadakan oleh Papermoon Puppet Theatre 2 tahun yang lalu, tepatnya bulan Desember 2016. Kami ingin menampilkan pertunjukan yang bercerita tentang alam, namun cukup lama kami tidak menentukan konsep seperti apa yang akan kami bawakan untuk Pesta Boneka. Suatu hari Rangga bercerita pada saya dan anggota kami yang lain, tentang mimpinya membagikan bibit tanaman kepada setiap orang yang lewat di hadapannya. It was like his Aha! Moment. Dan kami pun setuju dengan ide Rangga. Saat itu kami beranggotakan lima orang termasuk saya dan Rangga, serta dua teman kami Maisarah dari Malaysia dan Nano adik kelas Rangga. Jujur sih, saya lupa proses di Pesta Boneka ini karena di saat yang bersamaan saya juga bekerja dan mengerjakan tugas akhir saya. Banyak pikiran bertumpuk.



Namun yang paling saya ingat dari proses ini adalah, keegoisan saya yang berujung pada bentuk boneka yang sama sekali tidak menguntungkan di atas panggung. Tidak ada volumenya sama sekali. Pertunjukan berjalan apa adanya, bahkan bisa dibilang sangat jauh dari apa yang sekarang teman - teman lihat saat di Galeri Indonesia Kaya. Meskipun kami mendapatkan energi yang baik dari Pesta Boneka, namun kami menyia-nyiakan kesempatan baik yang dibuka untuk kami. Pesta Boneka punya cerita sendiri bagi perjalanan kami sebagai grup teater boneka. Setelah Pesta Boneka berakhir, kami mendapatkan evaluasi dari Papermoon mengenai pertunjukan kami. Di saat bersamaan juga, kami dapat kesempatan untuk menampilkan NATUH pada acara yang diadakan oleh Institut Francais d’Indonesie bernama La Nuit des Idees or The Night of Ideas. Tawaran ini diberikan oleh Christine Moerman yang saat itu adalah Direktur IFI Yogyakarta, serta oleh Monsieur Christian Gaujac, attache kebudayaan Perancis yang saya wawancarai untuk tugas akhir saya.



Kesempatan ini kami jadikan sebagai batu loncatan untuk pertunjukan NATUH. Kami ingin berusaha lebih dan kami yakin ada hal - hal yang masih bisa dikembangkan melalui pertunjukan ini. Mengawali tahun, kami mementaskan untuk kedua kalinya NATUH di Auditorium IFI Yogyakarta pada bulan Januari 2017. Pertunjukan berjalan cukup baik, lebih baik malah dibandingkan saat pertama kali kami pentaskan di Pesta Boneka. Banyak hal yang kami kembangkan dan perbaiki serta elemen yang ditambahkan. Bentuk boneka jadi berubah signifikan hingga kami menemukan nama untuk masing - masing tokoh dalam NATUH. Mereka adalah Tok Bomoh, Taran, dan Tala, serta Luta sang penjaga keseimbangan kehidupan di NATUH.

Ada beberapa catatan yang harus saya ingat setiap memulai dan terlibat dalam sebuah pertunjukan. Take a deep breath and let go. Melepas ego dan menerima hal yang baik yang datang dengan bijaksana.

Sampai jumpa di cerita selanjutnya ya!

Cheers,

M

Friday, January 12, 2018

Behind the Stages: Numb between my toes as I cannot help you no more

Courtesy: Nurul Fatimah

The curtain closed, Sunday was the last day of My Friend Has Come to be performed in Jogja Contemporary. It was magically sad and devastating actually. Like,  As the world turns so incredibly fast, there is no time for people to reach out. 

When you feel left out, no one would care.If you feel lonely, it is inevitable. The world has no interest in your life and misery. It will go round as it should be, whether you are alive or not.


But, do you know when exactly you die or dead? Do you feel it? It is like the life of persimmon tree. You keep guessing if it dies or not because it is still standing whether it dies or lives. I think that how "Me" questioning the persimmon tree or how "Me" and "My Friend" debating about a seed of persimmon tree they found on tatami are like human questioning the future.

I saw from the performance and conclude that someone hands mean so much for other who try to reach out and speak their hearts out. But, it is too late for them. "Me" cannot hold "My Friend"'s hands or drag him out of his own solitude. When "My Friend" cried a little, pull himself together, and start riding his bicycle away from "Me". He felt it is the time to say goodbye. When "Me" comeback with a glass of barley tea, he found out that "My Friend" is no longer there. No one in the room but him and empty photos of his own face. Goodbye is always difficult. I cried inside but no more tears falling out if my eyes. Only regret like what "Me" felt most of the time. 

As I reflect to the script itself, I always wondering how Toshiro Suzue-san could write a beautiful story that we could connect with. It is absolutely different from how Japanese and Indonesian felt about the issue, but like it or not each one of us would ended up on that stage. The technology that develop too fast, of course, give us the side effect. We become more and more ignorant. 

During I translated the script, I always imagined how it happened. How each scene overlapping one another. How the sound of cicadas played softly but intensely emerged on the set. But, when the script was played on the stage there are more factors need to be consider such as director, actor, time and space, even the budget of the performance need to be calculated and whether you like it or not will influence the performance itself. But, I knew for sure that Mas Enx, Rangga, and Anwar always gave their best to performed this script and the performance was brilliant. I have to admit that, Rangga and Anwar finally could control themselves and "be" the characters. Even though they found the inside of each character on the last minute, but I am proud of what they bring to the set. 


All I could give is a standing ovation for Mas Enx, Rangga, Anwar, and all the team that made it happen. To all the audiences that were coming and enjoying the moment with us. To audiences that gave us their honest opinion and share their writings about the performance, it was an honour and we believe that are more things to come. 


For me, a stranger that accidentally jump and dive in into theatre, performance is not only about people who do the work behind and on the stage, but all of elements that give their energy to experience and share the stories. 


I am looking forward to see a great and positive circle of people on another great chance.


Regards,

M



Thursday, December 28, 2017

Behind The Stages: Pertemuan dengan Temanku



Pertemuan dengan Temanku adalah judul yang tepat untuk memulai tulisan ini. Setelah sekian lama tidak menulis dalam bahasa Indonesia di blog ini, akhirnya tulisan curhat kecil tentang pengalaman menerjemahkan teks teater berhasil mendobrak kebiasaan saya. Sebenarnya menulis dengan bahasa Inggris menjadi salah satu metode saya untuk belajar bahasa Inggris, yah, walaupun mungkin masih ada saja grammar yang tidak tepat, tapi usaha kecil juga pasti berdampak pada diri, bukan.

Bukan suatu hal yang asing ketika akhirnya Rangga berada pada titik ia harus menyelesaikan studinya, dan saya dengan senang hati membantu. Bantuan pertama yang bisa saya berikan adalah menerjemahkan teks yang akan dia gunakan dalam pertunjukan tugas akhirnya. Judul naskah asli yang akan digunakan untuk pertunjukan tugas akhirnya adalah Tomodachi ga kita, sebuah naskah Jepang, tapi saya tidak begitu mahir dalam bahasa Jepang, jadi kami memilih menerjemahkan teks bahasa Inggrisnya dengan judul My Friend Has Come terjemahan James Yaegashi, seorang aktor Amerika keturunan Jepang. Penulis naskah ini adalah Toshiro Suzue-san yang dengan sangat ramah menyambut permintaan saya untuk menerjemahkan naskah beliau. 


Awalnya sangat susah mencari sumber informasi mengenai beliau dan naskahnya dalam bahasa Indonesia, bahkan dalam bahasa Inggris. Karena sampai saat ini, baru naskah Kunang - Kunang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan bantuan teman saya bernama Yoko, saya berhasil menemukan website resmi Toshiro Suzue-san. Tanpa ragu dan bahasa Jepang seadanya, saya menghubungi beliau melalui email. Mungkin ini adalah jalan semesta, niat baik saya untuk menghubungi beliau disambut hangat, bahkan beliau bersedia menjawab pertanyaan saya seputar naskah tersebut.

Saya sebelumnya pernah menerjemahkan naskah Monolog untuk Rangga yang kita ambil dari film Bronson, dengan mengutip bagian - bagian dialog dari film, kami menyusun naskah monolog tersebut. Selain itu, disaat yang bersamaan juga saya menerjemahkan naskah Hellen Keller untuk tugas akhir Lala. Namun, menjadi tantangan tersendiri bagi saya menerjemahkan naskah ini. Naskah ini terdiri dari sembilan adegan, atau sekitar 30-an halaman. Bercerita tentang tokoh Aku, di suatu siang saat Musim Panas. Latar tempat adalah ruang tengah tokoh Aku yang menghadap ke halaman belakang. Saya harus membaca teks dalam bahasa Inggrisnya berulang - ulang, meski kata - kata yang digunakan cukup sederhana, namun Toshiro Suzue-san sangat detail menuliskan setiap laku yang dimainkan oleh tokoh. Bahkan ketika pertama kali menyelesaikan membaca naskah ini, saya merasa terpukul dan seperti ada beban yang menghantam dada saya. Benar, bahkan untuk memberikan pertolongan pun sudah tidak sempat. Ini pengalaman pertama saya membaca naskah teater dan dibuat menangis.


Naskah selesai dalam waktu kurang lebih 2 bulan. Setelah selesai, saya memberikan keleluasaan bagi Rangga untuk menyesuaikan kata dan kalimat yang ada di dalamnya. Karena tidak mudah memilih kata yang tepat untuk mewakili sebuah ide dari bahasa yang bukan bahasa Ibu kita. I feel so honored bisa menyelesaikan naskah ini dan memberikannya kepada Suzue-san. Saya merasa banyak sekali keajaiban di tahun 2017 ini. Akan ada cerita lanjutan tentang pengalaman ini di blog, I will not tell the story here, it will be a surprise. If you wonder how it turns out on stage, please do come and feel the moment.

Silahkan datang menemani kami membicarakan hidup sebuah pohon kesemek di halaman belakang sambil menikmati segelas teh barley dingin.
Info tentang pertunjukan silahkan klik di sini: bit.ly/2AYfUmC

Popular Posts

Featured Post

Hutan Indonesia, Mengambil bagian untuk Melestarikan

Bulan Agustus tidak hanya bulan bersejarah bagi kemerdekaan Indonesia tapi ada hari penting yang patut diingat, digaungkan, dan juga diberit...